Halo, semuanya. Jumpa lagi di tulisan ini pada segmen #SeparuhRenungan
Maaf lama menghilang, karena ternyata banyak tambahan aktivitas baru setelah predikat berubah menjadi bapak hahaha. Terakhir aku cek ternyata nulis terakhir 31 Agustus 2024, sudah satu tahun lebih.
Kepikiran mau menulis bagian ini lagi karena ada yang memantik soal keresahan yang aku punya. Ada yang mengirimkan sebuah chat di grup perumahan. Tulisannya sederhana saja sebetulnya.
“Dalam tulisan tersebut, digambarkan seorang perempuan tua yang rela meninggalkan dagangannya di sebuah pasar agar bisa menunaikan salat tepat waktu ”
Bayangkan, di tengah-tengah pasar yang riuh seorang perempuan yang mungkin sedang butuh sekali untuk segera terjual barang dagangannya karena keluarganya membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan keluarga, namun tetap menyempatkan salat tepat di samping dagangannya setelah suara azan berkumandang. Mungkin kalo kita yang mengalaminya kita akan melanjutkan berdagang sampai pasar tutup karena kalo kita tinggalkan dengan aktivitas lain, barang dagangan kita akan ada yang mengambil dan kita akhirnya rugi. Aku baca chat tersebut sampai selesai lalu jadi teringat aku pernah juga membicarakan hal ini.
Beberapa waktu yang lalu aku juga sempat membahas hal tersebut, konteksnya sama persis. Saat itu aku sedang perjalanan menuju ke Kab. Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kurang lebih durasi perjalanan membutuhkan waktu 6 jam, sehingga selama di jalan selain membahas tentang pekerjaan juga ngobrolin tentang kehidupan.
Kami berangkat bertiga. Aku, Kaffi, dan Sunardi. Kaffi dan Sunardi kebetulan sebaya. Mereka masih muda dan energik, kalo tidak salah usia mereka belum genap 25 tahun. Selisih usianya 5 tahun denganku, jadi obrolannya masih lumayan nyambung kalo ingin ngobrolin sesuatu di luar pekerjaan. Kebetulan waktu di usia yang sama, itu adalah tahun pertamaku mendapatkan pekerjaan. Jadi kami banyak membicarakan hal itu. Ceritalah kami tentang hidup masing-masing saat awal diterima kerja. Diskusinya ringan tapi asyik. Kami menceritakan latar belakang, keluarga, latar belakang pendidikan, rencana ke depan, pesan kesan selama bekerja, hingga motivasi bekerja. Nah, di poin terakhir lah yang membuat kami diskusi cukup panjang.
Banyak memang keresahan yang selama ini belum terjawab di pikiranku atas beberapa hal, khususnya terkait dengan datangnya rezeki. Mungkin teman-teman juga memiliki keresahan yang serupa.
Apakah apa yang sudah aku kerjakan selama ini sudah baik dan benar?
Apakah gaji yang sudah aku dapatkan selama ini halal dan berkah?
Dari mana kita tahu bahwa pendapatan yang kita terima ini halal dan berkah?
Pertanyaan tersebut selalu muncul dan lama-kelamaan membuatku takut, jangan-jangan apa yang aku dapatkan ternyata tidak berkah. Pertanyaan tersebut semakin dalam karena aku memiliki keluarga yang harus dihidupi dengan pendapatan yang aku peroleh dari pekerjaan. Sudah jelas aku ingin memastikan bahwa apa yang aku kerjakan ini memang baik dan benar. Jika tidak, itu akan masuk ke dalam darah daging anak dan istri yang akan dibawa sampai mati nanti, bahkan ke anak cucu kelak. Ini memang tanggung jawab yang tidak mudah namun bisa diselesaikan. Hanya dibutuhkan kemauan dan cara menyikapi yang tepat.
Aku bersyukur diberikan rasa takut atas hal tersebut karena menurutku mungkin ini adalah cara Tuhan untuk mengingatkan bahwa ada yang perlu diperbaiki dari apa yang telah aku kerjakan selama ini. Mungkin Tuhan ingin bilang supaya yang aku bekerja lebih baik lagi dan menghasilkan sesuatu yang baik. Jika aku tidak merespon atas “ketukan dari Tuhan” tersebut, mungkin Tuhan akan membiarkan ku terjerumus semakin dalam dan tidak lagi terdengar “ketukan dari Tuhan” tersebut.
Tidak dipungkiri, pasti selama aku bekerja kurang lebih 6 tahun ini banyak hal yang aku lakukan dengan cara yang tidak seharusnya dilakukan dan itu pasti memengaruhi pendapatan yang aku peroleh. Apalagi jika secara terang-terangan aku tahu bahwa hal itu salah, namun tetap dilakukan. Mungkin benar, aku hanya takut jika terjadi sesuatu yang buruk di pekerjaan. Padahal justru karena kita melakukan hal tidak benar tersebut secara terus menerus lah yang membuat kita semakin jauh dari kebaikan. Seharusnya aku berani mengambil sikap atas hal tersebut agar tidak tenggelam semakin dalam dalam sesuatu yang tidak baik.
Setelah aku mendengar pendapat dari Kaffi dan Sunardi ternyata memang setiap orang memiliki pandangan. Kaffi dan Sunardi cenderung sepakat satu sama lain, meskipun ada beberapa hal yang masih sulit untuk dijelaskan. Mungkin karena mereka masih muda, sehingga idealisme nya masih tertakar dengan jelas. Ada satu pernyataan dari Kaffi yang menurutku penting laku aku kutip. Semoga ini selalu menjadi pengingat untukku seterusnya.
“Tidak usah takut ketika kita kehilangan pekerjaan, justru yang harus kita takuti adalah ketika kita kehilangan yang memberi kita pekerjaan (rezeki)”
Memang benar, perusahaan atau perseorangan atau siapapun yang memberi kita pendapatan hanyalah perantara. Padahal perantara tersebut bisa siapa saja, tidak harus perusahaan sekarang yang kita sedang bekerja di dalamnya. Mungkin memang benar kita hanya takut saja kehilangan pekerjaan, tapi di luar itu Tuhan masih memberikan jalan seluas-luasnya untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik dengan cara yang lebih baik. Ini hanya soal kita percaya dengan Tuhan saja atau tidak.
Justru yang seharusnya kita takuti adalah murkanya Tuhan. Ketika kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah sudah jelas salah dan kita masih lakukan secara terus menerus. Padahal sebetulnya mungkin itu hanya ketakutan kita saja. Kita takut mengubahnya karena itulah yang terjadi dan menjadi kebiasaan lama. Takut dimarahi, Takut tidak disukai oleh orang lain, takut tidak diperlakukan tidak baik dan sebagainya.
Kadang-kadang ada yang menggampangkan, “Ah, kan cuma sekali-sekali”, “Kan nilainya kecil aja, nda berdampak ke apa-apa”, “Tenang saja, tidak akan ketahuan”. Ketika satu pintu keburukan terbuka, akan membuka pintu keburukan yang lain. Lama-kelamaan Tuhan akan menutup pintu rezeki itu untuk kita. Akhirnya kita hanya akan mendapatkan “gaji” saja, namun tidak dengan “rezeki”. Gaji hanya bisa dirasakan di dunia, rezeki bisa dirasakan baik di dunia maupun hingga di akhirat nanti.
Mendengar pernyataan itu semoga semakin menguatkan untuk mengambil sikap yang lebih jelas ke depan agar lebih berani dalam mengambil keputusan yang baik dan benar, dalam hal apapun. Tidak hanya terbatas pada pekerjaan saja. Yang jadi catatan ketika ingin kita mengambil langkah yang progresif, kita tetap harus memiliki rencana. Tidak serta merta kita mengubah kebiasaan tanpa perencanaan yang baik. Akan konyol jika kita tidak memikirkan langkah ke depan. Tuhan memiliki rencana, kita pun juga harus memiliki rencana.
Terima kasih sudah membaca. Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat untuk kita semua. Sampai ketemu di tulisan selanjutnya.
.jpg)
keep halal brother
ReplyDeleteaamiin in syaa Allah
Delete