Showing posts with label #SeparuhRenungan. Show all posts
Showing posts with label #SeparuhRenungan. Show all posts

Sunday, 13 September 2026

#SeparuhRenungan, Bagian 6 (Bahasa)





Judulnya bahasa, kebetulan kemarin aku dapat pemantik untuk nulis ini saat ikut kajian tahsin di masjid. Bukan disengaja, kebetulan pas selesai Salat Maghrib diumumkan akan ada kajian tahsin sambil menunggu Salat Isya. Kebetulan ada masku juga agar bisa ikut. Akhirnya aku ikut.

Kajian tahsin kalo merujuk ke bahasanya sebetulnya sangat luas, karena arti tahsin sendiri memperbaiki. Namun di Indonesia, kajian tahsin lebih spesifik membahas tentang mem

perbaiki bacaan Al Qur’an. Meskipun dalam konteks luas bisa ke Bahasa Arab secara umum, tidak hanya Al Qur’an, bisa ke komunikasi secara umum juga. Lebih luas lagi sebetulnya segala bentuk kajian pasti tujuannya untuk memperbaiki.

Kajiannya diikuti oleh kurang lebih 14 orang, mayoritas sudah berumur lebih dari 50 tahun kalo aku lihat. Paling muda juga masih ada yang SMP. Aku salut karena tidak ada yang gengsi untuk belajar, meskipun sudah tua atau meskipun masih muda. Biasanya budaya di Indonesia ada minder. Si Tua berpikir “Malu saya dilihatin yang muda, sudah tua masa baru belajar baca Al-Qur’an.”, Si Muda berpikir “Yang ikut tua-tua, pasti yang lainnya sudah jago-jago.” Serba salah, tidak akan dimulai. Memang belajar tidak ada kata terlambat, waktu yang paling tepat ya sekarang, dimulai secepatnya.

Ustadz nya duduk di depan menghadap ke kami, para pelajar, dengan duduk setengah lingkaran. Kami duduk dengan meja duduk dan mengambil mushaf masing-masing untuk lebih dihayati. Kajian dimulai, ustadz memulai dengan kilas balik atas pertemuan kajian minggu lalu, yaitu bacaan isti'adzah / ta’awudz dan basmalah agar diingat kembali perbaikan yang sudah ada pada bacaan tersebut jangan sampai terulang lagi. Aku membayangkan dalam satu kajian hanya bisa membahas satu-dua ayat, betapa dalamnya saat mengulik satu ayat agar setiap orang bisa melafalkan dengan benar.


Setiap huruf (hijaiyah) memiliki hak-nya.

Kita harus dapat menunaikan hak huruf tersebut dengan baik agar kita lafalkan benar dan sesuai artinya.

Sunday, 11 January 2026

#SeparuhRenungan, Bagian 5 (Jalan Rezeki)



Halo, semuanya. Jumpa lagi di tulisan ini pada segmen #SeparuhRenungan

Maaf lama menghilang, karena ternyata banyak tambahan aktivitas baru setelah predikat berubah menjadi bapak hahaha. Terakhir aku cek ternyata nulis terakhir 31 Agustus 2024, sudah satu tahun lebih.

Kepikiran mau menulis bagian ini lagi karena ada yang memantik soal keresahan yang aku punya. Ada yang mengirimkan sebuah chat di grup perumahan. Tulisannya sederhana saja sebetulnya.

“Dalam tulisan tersebut, digambarkan seorang perempuan tua yang rela meninggalkan dagangannya di sebuah pasar agar bisa menunaikan salat tepat waktu ”

Bayangkan, di tengah-tengah pasar yang riuh seorang perempuan yang mungkin sedang butuh sekali untuk segera terjual barang dagangannya karena keluarganya membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan keluarga, namun tetap menyempatkan salat tepat di samping dagangannya setelah suara azan berkumandang. Mungkin kalo kita yang mengalaminya kita akan melanjutkan berdagang sampai pasar tutup karena kalo kita tinggalkan dengan aktivitas lain, barang dagangan kita akan ada yang mengambil dan kita akhirnya rugi. Aku baca chat tersebut sampai selesai lalu jadi teringat aku pernah juga membicarakan hal ini.

Saturday, 31 August 2024

#SeparuhRenungan, Bagian 4 (Titipan)


Beberapa waktu lalu di Youtube, waktu itu tidak sengaja menonton wawancara Najwa Shihab dengan Tulus. Di video itu Najwa Shihab kagum dengan lirik lagu yang dibuat oleh Tulus yang selalu dapat dirangkai dengan baik  dan mampu menyentuh emosi pendengarnya. Lalu dengan rendah hatinya Tulus kemudian menjawab


“... Saya sebagai orang yang dititipi kemampuan (oleh Tuhan) untuk menulis lirik lagu merasa senang (ketika berdampak baik) karena merasa ada nilainya dengan apa yang saya perjuangkan….”


Setelah dengar pernyataan itu aku langsung kepikiran nulis tulisan ini

Tulus diberikan “titipan” berupa kemampuan menulis lirik lagu. Paling tidak kita tahu dan ikut mendengarkan lagu yang dibuat oleh Tulus mungkin mampu membuat sebagian dari kita menjadi bahagia, haru, tenang, dan mungkin emosi baik lainnya. Artinya kita tahu bahwa titipan Tuhan yang diberikan kepada Tulus berupa kemampuan menulis lirik lagu tersebut dimanfaatkan dengan baik dan memberikan dampak baik juga ke pendengarnya.

Tapi memang benar, semua yang kita dapatkan di dunia ini memang  “titipan”. Kadang ada orang yang merasa sesumbar atas pencapaian yang didapatkannya merasa bahwa ini semua karena dirinya. Padahal antara dirinya dengan pencapaiannya ada perantara Tuhan, kalau Tuhan tidak menitipkan kemampuan itu kepadanya, mungkin semua pencapaiannya tidak akan pernah ada. 

Sunday, 24 September 2023

#SeparuhRenungan, Bagian 3 (Nilai)


Sejauh mana kita pernah mengukur seberapa bernilainya kita dalam hidup?

Atau kita coba mundur dulu dari pertanyaan mendasarnya, pentingkah kita mempunyai nilai dalam hidup kita? Jangan-jangan tidak. Untuk apa?

Tapi jika kita selama ini tidak bernilai untuk apa kita hidup selama ini tapi tidak menghasilkan atau memberikan apa-apa?

Pertanyaan-pertanyaan itu sering mengganggu dan muncul tiba-tiba hingga membuat termenung sejenak. Apalagi jika sewaktu sendiri dan Ketika sedang mendengarkan orang lain secara tidak sengaja lalu kita tertohok dengan beberapa perkataan yang sebetulnya tidak ditujukan kepada kita. Pun Ketika sedang mendengarkan podcast atau membaca buku yang bertema self improvement lalu membuat kita terdiam kemudian menutup buku lalu kemudian kita mengingat sesuatu yang penting dan menulis hal-hal apa yang akan dikerjakan selanjutnya.

 

“Hal bernilai apa yang sudah dikerjakan? Hal bernilai apa yang akan dikerjakan selanjutnya?”

 

Friday, 11 November 2022

#SeparuhRenungan, Bagian 2 (Hidup untuk Mati)


Sesuai judulnya, pernahkah kalian berpikir kalau kita hidup di dunia ini untuk mati?

Kita semua tahu bahwa hidup kita di dunia hanya sementara dan nantinya pasti kematian akan menjadi tujuan akhir dari kehidupan kita di dunia. Selayaknya hidup dan mati, segala sesuatu di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Baik dengan buruk, cepat dengan lambat, gelap dengan terang dan sebagainya.

Ketika kita tahu bahwa kita hidup untuk mati, lalu apa selanjutnya? Apakah kita hanya merenungi saja tanpa melakukan apapun? Atau justru kita mencoba dengan sebaik mungkin menjadi versi terbaik dari diri kita dalam hal apapun tanpa menghiraukan kapan kita akan mati. Ketika menjadi “luar biasa” atau “lebih baik” adalah sebuah pilihan yang bisa diupayakan, tentunya menjadi “baik” saja bukanlah pilihan yang terbaik.

Pilihan ada di tangan kita masing-masing, Ingin jadi apa kita di dunia ? Ingin dikenal seperti apa kita di dunia? Ingin meninggalkan apa kita di dunia? Jawabannya ada di kita. Tinggal bagaimana eksekusi kita dalam mencapai keinginan tersebut. Sebisa mungkin, jangan sampai kita meninggalkan dunia tanpa berarti apa-apa. Lebih-lebih malah meninggalkan keburukan. Jangan.

Sering sekali aku berpikir, “Apakah aku sudah cukup berarti ya hidup di dunia ini? Terlepas berbagai kekuranganku, kok sepertinya masih banyak yang harus ditunaikan”. Ketika aku berhenti mencoba, di situ aku merasa “Masa kemampuanku Cuma segini saja ya”,  selalu merasa kurang dengan apa yang kuperbuat. Syukur memang perlu, tapi merasa kurang untuk bisa melakukan yang terbaik menurutku lebih penting. Sepertinya aku merasa bersalah kalau menganggur tanpa melakukan apapun.

Thursday, 13 October 2022

#SeparuhRenungan, Bagian 1 (Paksaan)



Hai semuanya, semoga kalian selalu dalam keadaan baik ya.

Lama sekali aku tidak menulis di blog ini, sepertinya satu tahun sejak perilisan buku, atau malah sepertinya lebih ya. Tulisan kali ini dan seterusnya (semoga) akan menjadi seri kedua dari #SedikitRenungan pertama yang sudah rilis sebelumnya. Temanya dinamai dengan #SeparuhRenungan, harapannya ini jadi monumen kedua dan bentuk pengembangan dari #SedikitRenungan beberapa waktu yang lalu. Isinya pun akan kurang lebih sama sekitar pengalaman hidup pribadi yang menurutku punya nilai baik yang bisa diambil di dalamnya.

Banyak sekali hal berubah dalam waktu setahun terakhir ini, pandemi yang perlahan mulai menghilang dan beralih ke era normal yang baru, perkembangan teknologi yang juga sangat pesat dengan internet of thing bahkan internet of people, resesi ekonomi dengan beberapa negara mengalami kebangkrutan dan inflasi hebat, dinamika politik maupun geopolitik yang dipuncaki dengan perang. Seakan peristiwa penting “berkumpul” dalam satu periode. Semua itu mau tidak mau harus kita hadapi dengan “terpaksa”. Kita tidak bisa berbuat banyak hal untuk mengubah semua itu, terjadi-terjadilah.

Begitu pun aku, mungkin juga kalian, dari mulai aku yang juga semakin menentukan arah hidup ingin kemana yang tentunya juga semakin mengaktualisasi diriku, sampai hal-hal dalam hidupku yang harus ditentukan oleh orang lain yang memang harus terlibat di dalamnya. Kadang aku merasa hidupku ditentukan oleh waktu dan orang lain. Waktu menentukan masa, waktu menentukan proses. Tapi ya itulah cara kerja hidup.

Popular Posts