Judulnya bahasa, kebetulan kemarin aku dapat pemantik untuk nulis ini saat ikut kajian tahsin di masjid. Bukan disengaja, kebetulan pas selesai Salat Maghrib diumumkan akan ada kajian tahsin sambil menunggu Salat Isya. Kebetulan ada masku juga agar bisa ikut. Akhirnya aku ikut.
Kajian tahsin kalo merujuk ke bahasanya sebetulnya sangat luas, karena arti tahsin sendiri memperbaiki. Namun di Indonesia, kajian tahsin lebih spesifik membahas tentang mem
perbaiki bacaan Al Qur’an. Meskipun dalam konteks luas bisa ke Bahasa Arab secara umum, tidak hanya Al Qur’an, bisa ke komunikasi secara umum juga. Lebih luas lagi sebetulnya segala bentuk kajian pasti tujuannya untuk memperbaiki.
Kajiannya diikuti oleh kurang lebih 14 orang, mayoritas sudah berumur lebih dari 50 tahun kalo aku lihat. Paling muda juga masih ada yang SMP. Aku salut karena tidak ada yang gengsi untuk belajar, meskipun sudah tua atau meskipun masih muda. Biasanya budaya di Indonesia ada minder. Si Tua berpikir “Malu saya dilihatin yang muda, sudah tua masa baru belajar baca Al-Qur’an.”, Si Muda berpikir “Yang ikut tua-tua, pasti yang lainnya sudah jago-jago.” Serba salah, tidak akan dimulai. Memang belajar tidak ada kata terlambat, waktu yang paling tepat ya sekarang, dimulai secepatnya.
Ustadz nya duduk di depan menghadap ke kami, para pelajar, dengan duduk setengah lingkaran. Kami duduk dengan meja duduk dan mengambil mushaf masing-masing untuk lebih dihayati. Kajian dimulai, ustadz memulai dengan kilas balik atas pertemuan kajian minggu lalu, yaitu bacaan isti'adzah / ta’awudz dan basmalah agar diingat kembali perbaikan yang sudah ada pada bacaan tersebut jangan sampai terulang lagi. Aku membayangkan dalam satu kajian hanya bisa membahas satu-dua ayat, betapa dalamnya saat mengulik satu ayat agar setiap orang bisa melafalkan dengan benar.
Setiap huruf (hijaiyah) memiliki hak-nya.
Kita harus dapat menunaikan hak huruf tersebut dengan baik agar kita lafalkan benar dan sesuai artinya.
Kata-kata tersebut terus terang langsung melekat dalam pikiran. Benar, mungkin aku selama ini kurang menghayati dalam berbahasa Arab. Aku terbiasa berbahasa Indonesia atau bahasa lokal lainnya untuk berkomunikasi sehingga tidak mampu berbahasa Arab sebaik bahasa lainnya. Mungkin bahkan lebih mampu berbahasa Inggris dibandingkan berbahasa Arab. Kenapa?
Padahal sebagai muslim saat beribadah pasti ada Bahasa Arab yang dilafalkan dalam setiap waktu, itu pasti. Tapi kenapa tidak mencoba memahami lebih baik? Mungkin karena kita merasa Allah sudah memahami apa yang kita maksud. “Ah, tidak perlu berbahasa Arab, kan Allah akan paham juga maksudku”, mungkin itu pikiran yang banyak ada sebagian besar dari kita sebagai muslim.
Jika kita belajar bahasa Inggris rela sampai kursus berbayar, sampai rela mengejar sertifikasi TOEFL/IELTS, sampai rela bertemu native speaker untuk langsung belajar kepada mereka. Kenapa Bahasa Arab tidak kita perlakukan dengan cara yang sama? Apakah Bahasa Arab tidak sepenting itu? Apakah Bahasa Inggris lebih penting dibandingkan bahasa lainnya? Ya sebetulnya tidak salah, ini hanya refleksi agar kita mampu berpikir lebih luas dan lebih substansial. Karena semua sama pentingnya. Ini hanya soal prioritisasi saja.
Kajian dilakukan dengan membaca satu per satu bergantian sampai setiap pelajar bisa benar saat melafalkan. Pelajaran malam itu adalah membaca kalimat hamdalah. Mungkin terdengar sederhana. Kurang lebih setiap peserta menyelesaikan bacaan hamdalah selama 2-3 menit, kebetulan aku gilirang keenam, sehingga total kurang lebih 45 menit sambil menunggu waktu Salat Isya.
Nyatanya tidak semua bisa melafalkan dengan benar, termasuk diantaranya adalah aku. Betapa menjadi teguran yang keras buatku yang selama ini aku merasa baik-baik saja dan sudah benar. Padahal kalimat hamdalah pasti kita ucapkan sekurang-kurangnya 5 kali dalam sehari saat salat, bahkan 335 kali setelah salat saat berzikir, total 340 kali mengucapkan kalimat hamdalah. Tapi ternyata 340 kali juga aku salah mengucapkan dalam sehari. Itu baru sehari, di usiaku yang sudah 30 tahun ini berarti sudah 3,7 jutaan kali kalimat hamdalah yang kurang tepat dibaca selama hidup.
Kenapa aku tidak bisa? karena tidak terbiasa berkomunikasi dan tidak belajar dengan baik secara formal seperti Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.. Padahal seorang muslim dalam beribadah pasti menggunakan Bahasa Arab. Ibaratkan Allah adalah guru atau atasan, pasti akan sangat malu jika selama ini tidak memahami apa yang kita sampaikan kepada-Nya. Aku tidak pernah ditegur saja kalau aku kurang tepat. Mungkin ini adalah bentuk teguran Allah melalui kajian tahsin ini agar belajar Bahasa Arab lebih baik lagi.
Belajar bahasa memang tidak hanya soal membaca. Menulis, mendengarkan, membaca, melafalkan, bahkan sampai dengan memahami artinya adalah bagian di dalamnya. Semoga menjadi renunganku dan bagi yang membaca.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.
.jpg)
No comments:
Post a Comment